
| Edisi No.05/I/September 2003 Hafidz Asram, Pengusaha Mebel dari Yogya  Yogyakarta, Kota Ilmu, Kota Pelajar. Bagi para orang tua, kota ini biasanya menjadi salah satu pilihan favorit untuk menyekolahkan anaknya. Ramah dan bersahabat, mungkin itu yang menjadi kesan para pengunjung Kota Gudeg ini.
Di bekas ibukota itulah figurpublik menemukan sosok seorang pengusaha mebel, Hafid Asram. Lelaki setengah baya, berasal dari Jepara. Bagi masyarakat Yogya, namanya sudah cukup terkenal. Media lokal seperti KR (Kedaultan Rakyat) dan TVRI Stasiun Yogyakarta sering meliputnya. Pasalnya, ia sempat mencalonkan diri menjadi Bupati Sleman. Tapi, gara-gara kalah satu suara dari lawan politiknya, Hafid kini malah menjadi pengusaha mebel.
Ketimbang karir politiknya, ternyata perjalanan hidupnya lebih menarik untuk disimak. Lelaki yang kini berusia 45 tahun tersebut dilahirkan di sebuah desa yang berjarak sekitar 33 km dari Jepara. Tepatnya, 3 November 1957.
» Artikel Terkait
Jiwa Bisnis Berbasic Filsafat
Pengusaha Mebel dari Yogya

| Edisi No.04/I/Agustus 2003 Bug's Cafe
 Sore hari, saat Anda pulang kantor, meluncur dengan santai melalui kawasan Pondok Indah, mampirlah ke Bug

| Edisi No.03/I/Juli 2003 Pondok Ikan Gurame Restoran dengan Manajemen Berkah  Hari masih pagi ketika tim figurpublik diberi kesempatan untuk berkunjung ke Pondok Ikan Gurame. Tepatnya di Kalimulya Depok, layaknya sebuah pondokan tradisional dengan nuansa etnik yang anggun.
Restoran belum buka, jadwal buka memang jam 10 pagi. Masuk ke dalamnya pasti bikin kita berdecak kagum dan mungkin betah berlama-lama. Penataan ruang terbuka dengan dinding, pilar terbuat dari bambu dan atap gedek yang menampakkan ciri khas Indonesia tempo dulu.
Hamparan yang luasnya sekitar 3500 m2 dengan penataan saung dengan berbagai pilihan tempat duduk dari kursi bambu. Ditambah dengan suara gemercik air yang mengalir dari kolam ikan, membawa kita dalam suasana alam terbuka. Teringat kami pada hari sebelumnya ketika pertama kali bertemu dengan Bu Henny, panggilan akrab pemilik Pondok Ikan Gurame, di salah satu cabang resto tersebut di basement Pasaraya Blok M. Nuansa keakraban langsung terasa, ditambah dengan sajian yang ramah dan begitu cekatan dari pelayan resto, membuat kita tidak perlu malu-malu menentukan selera. Gurihnya Gurame Asam Manis yang menggelitik lidah, menjadikan obrolan kita begitu lancar.
» Artikel Terkait
Cerita Pengusaha Restoran Pondok Gurame
Restoran dengan Manajemen Berkah

| Edisi No.02/I/Juni 2003 Budhi Ghama, Bersyukur Karena Hidup Itu Gampang  Sekilas kesan ketika membicarakan hukum, mungkin yang akan muncul bayangan seorang hakim, terdakwa, dan pengacara. Tak ketinggalan sejumlah permasalahan hukum berikut perundang-undangannya yang menambah kesan rumit. Tentu kita masih ingat saat Tom Cruise memerankan seorang pengacara dalam
» Artikel Terkait
Bertumpu pada Akses dan Jaringan yang Luas
Bersyukur Karena Hidup Itu Gampang

| Edisi No.01/I/Mei 2003 PT. Patuna Mekar Jaya Tours and Travel, Tidak Semata-mata Membisniskan Ibadah  "Kita memang bisnis ibadah, tapi jangan sekali-kali menjadikan ibadah semata-mata untuk bisnis," tutur Syam Resfiadi (46) saat ditemui figurpublik di kantornya beberapa waktu lalu. Direktur PT Patuna Mekar Jaya, sebuah biro perjalanan haji dan umroh yang beralamat di Jalan Panglima Polim Raya No. 43A-B Kebayoran Baru ini, mengakui bahwa bisnisnya mula-mula hanya berupa usaha keluarga yang berbergerak di bidang ekspor, umroh, dan tenaga kerja. Baru setelah keluar SK Presiden tahun 1983 yang mengharuskan penyelenggara umroh dan haji berbentuk biro, ia mengubah bisnis keluarga yang berdiri sejak tahun 1973 ini menjadi Biro Perjalanan Haji dan Umrah.
Modal awal bironya yang sebesar Rp 90 juta ia dapatkan dengan cara mencicil. Uang modalnya itu dipergunakan Syam untuk membeli peralatan kantor dan menggaji 6 orang karyawan. Berkat kerja keras lelaki asli Jakarta ini, sekarang karyawan Patuna berjumlah 32 orang.
PT Patuna Mekar Jaya merupakan pelopor biro penyelenggara perjalanan haji dan umroh yang hingga saat ini masih tetap eksis. Menurut rating yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia, Patuna termasuk biro penyelenggara perjalanan Haji dan Umroh terbesar kedua di Indonesia.
"Pada waktu itu belum ada banyak pesaing, hanya sekitar 10 pengelola dan quota belum dibatasi. Namun, setelah pengelola berjumlah 40 quota dibatasi," kenang Syam. Ia merasa pembatasan quota yang dilakukan oleh pemerintah sangat membebani usahanya. Sejak saat itulah Patuna mulai meningkatkan kualitas pelayanannya secara maksimal.
Dengan terjadinya krisis moneter, sejak tahun 1997 Patuna mulai melebarkan sayap dengan melakukan diversifikasi usaha dibidang agro-bisinis dan perdagangan ritel. Krisis ini juga berdampak pada perolehan jamaah Patuna. Karena angka inflasi berdampak pada harga, maka Patuna mmenawarkan program-program yang memungkinkan, namun tetap dengan menjaga image perusahaan. Sehingga pada tahun Haji 2002M/1422H Patuna berhasil memberangkatkan jemaah sebanyak 425 orang dan Umroh tahun 2001M/1421H sebanyak 400 orang jemaah.
Biasanya ada bulan-bulan tertentu Patuna kebanjiran pelanggan, seperti liburan anak sekolah musim dingin, akhir tahun, dan awal tahun. Selain melayani perjalanan Haji & Umroh, Patuna juga melayani penjualan tiket pesawat udara baik domestik maupun internasional, tiket kapal laut (PELNI) dan juga tiket kereta api.
Dalam bisnisnya Patuna selalu memperhatikan kepentingan sosial kemasyarakatan dan melandaskan diri pada azas-azas Islami. Sebagai badan usaha yang bergerak di sektor jasa, untuk menjaga nama baik biro ini, Patuna harus memberikan pelayanan sesuai dengan yang sudah dijanjikan. Dengan motto Sahabat Anda Beribadah, Patuna berusaha memberi pelayanan terbaik kepada jemaah agar dapat beribadah dengan khusyu' dan tenang. "Walau hanya 2 orang pun kita berangkatkan," kata Syam.
Konsep pemasaran yang dilakukan Patuna awalnya hanya dari mulut ke mulut saja. "Dulu tidak ada media untuk promisi, ya door to door aja," jelasnya. "Sekarang kan udah pake rekomendasi dari ustadznya," tambah ayah dari tiga anak ini dengan mengerlingkan mata. Kini Patuna sudah memiliki beberapa cabang perwakilannya di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Semarang, dan Kendari.
Tahun 2003 ini, biro yang sempat membuka tour ke Spanyol dan Turki ini, menurunkan anggaran promosinya. Berdasarkan pegalamannya ternyata iklan yang besar tidak selalu meningkatkan jamaah yang signifikan. Sebelumnya, Patuna harus mengeluarkan Rp 300-500 juta tiap tahunnya sebagai biaya promosi.(ade)

:: Index

[## MYSQL ERROR SELECT ##]:
select * from usaha where id< order by id desc limit 0,5
>>
You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near 'order by id desc limit 0,5' at line 1
|